Saturday, 28 July 2012

catatan Ramadhan #2 - why life science ?

Juli 2007.
"Kenapa kamu masuk SITH,, sayang banget... harusnya kamu jadi dokter aja..." , begitulah komentar orang kebanyakan ketika tahu bahwa saya memilih SITH ITB, bukan fakultas kedokteran.
Saya hanya bisa tersenyum , padahal di dalam hati mah "mwee..kejamnyaa bilang begitu..". Kala itu; ketika saya dalam masa kritis penentuan masa depan (melalui masa kuliah); fakultas kedokteran, elektro, industri, dan psikologi adalah fakultas paling beken di kalangan pembicaraan kami. Biologi ? Cuma anak-anak tim olimpiade aja yang "diperkirakan" akan masuk sana. Dulu, jurusan ini dianggap sebelah mata. Maka saya juga sempat tidak PD ketika harus melanjutkan ke SITH ITB...


"Say, lo ga mau nyoba kedokteran lagi ..?? " ini golongan orang yg bersimpati tapi bikin saya bimbang..



"Mau kerja apa nantii..." itu komentar selanjutnya..


Bahkan ketika sudah menjalani kuliah dalam hitungan tahun sekalipun, ada aja komentar aneh seperti "kerjaan kamu, mengamati mikroba aja di mikroskop ??"

ngeeekk...lieur ateuhh tuan nona... oke, saya akan ceritakan tentang pekerjaan lab saya di postingan lain. Tapi, jawaban singkatnya adalah : pengamatan di mikroskopnya cuma beberapa menit aja kok.. :) -- sambil senyum

Maka, terhitung dari Juli 2007-Juli 2008, saya berpikir keras, bertanya-tanya kepada Tuhan dan diri sendiri..
Kenapa saya masuk sini yaa.. dulu kan pengen jadi dokter
Saya ntar jadi apa yaa...
Kok kayak nyasar yaa..
Berat begini praktikumnya euuyy... (Fyi, tahun 2007, SITH adalah satu-satunya fakultas yg ada praktikumnya pas TPB. dan praktikumnya 4 jam aja tiap minggu.. *fyuuhh~)


Juli 2008.
Mulai masuk perkuliahan di jurusan masing-masing. Saya masuk mikrobiologi ITB. Saya mulai punya bayangan tentang apa yang akan saya lakukan kelak dengan ilmu saya. Tuhan pasti punya maksud mulia, begitu pikir saya.

Maka ketika ada yang bertanya apa jurusan saya, atau ketika saya memperkenalkan diri pada suatu kesempatan, saya katakan.

"Saya Yosi Ayu Aulia, biasa dipanggil Yosay, Mikrobiologi 2007"

"Apa...??" atau
"Mikrobiologi ?" yang lain
"Biologi ?"

"Iya, Mikrobiologi. Baru ada tahun 2004 di ITB"

"Ooohh..." ga komen lanjut
"Waahh,, ngeri banget jurusannya.. belajar virus ga? ntar gw dikasih virus dong" -- Asli ini komennya Uta dan Panda di siaran "Panda Berkokok" Prambors Radio pas saya ikut suatu kuis. Ngakak!


Juli 2008-Juli 2010
Inilah kami Mikrobiologi 2007 !!
Praktikum, kuliah, tugas, ekskursi, kuliah lapangan, praktikum PTF dan mikrobiologi analitik, nginep di lab bermalam-malam, shaker manual, Fermenstation 2010, berlarian mengejar kelas imunologi, begadang belajar biselmol bareng-bareng. Sampaii.. KP dan TA dengan cerita dan pembimbing masing-masing

Microbabes at Tidung, 2011

Kami lalui semua bersama :")


Kami temukan diri kami masing-masing. Kami berbagi, kami unik berbeda namun menyatu, saling mendukung, mengingatkan, bangga satu sama lain, kami keluarga, kami mikrobiologi 2007.

Kami yakin; bahwa dengan melakukan hal kecil, kami bisa membuat perubahan besar pada dunia. Itulah kami, mikrobiologi 2007.
Bagi saya pribadi, saya menemukan kehidupan saya di sini. Saya bahagia belajar bersama mereka, berbagi tugas, bahkan ketika mengalami konflik sekalipun.


Belajar life science, bagi saya khususnya mikrobiologi, artinya belajar tentang kesempurnaan Allah, Sang Pencipta. Tuhan ciptakan sistem yang sempurna, seimbang, penuh perencanaan dan perhitungan, akbar tanpa mengabaikan detil, mikro namun berdampak mega, satu kata : Sempurna.



Life science adalah dasar ilmu pengetahuan. Inilah ilmu yang lahir dari kajian penciptaan Tuhan. Bagi saya, inilah cara Dia berbicara tentang kebesarannya. Sebab Dia ajarkan tentang kesetimbangan (homeostasis). Semua sistem alam semesta diciptakan dengan setimbang dan penuh perencanaan. Itu sebabnya semua ciptaan manusia mengacu pada cara Tuhan mencipta.



Tahukah kamu 



Bahwa teknologi sistem informasi mengikuti sistem transkripsi dan translasi pada sel ?

Bahwa konstruksi jembatan meniru konstruksi kaki ayam ?
Bahwa desain engsel pintu mengikuti struktur flagel pada bakteri ?
Bahwa sistem piramida makanan bisa menjadi contoh bagi sistem pemerataan ekonomi ?
Bahwa desain bor minyak mengikuti struktur gonad laki-laki ?
Bahwa strategi perang Rasulullah mengikuti sistem imun mnausia ? --klo untuk hal ini, pasti dibimbing Allah
Kalau sistem informasi biner aja bisa segitu banyaknya, bagaimana dengan sistem DNA yang terdiri dari 4 basa ?

Dan fakta-fakta keseharian..
Bahwa wine (yang buatnya bener) gabisa basi ?
Bahwa yoghurt bisa jadi keju ?
Bahwa pupuk ternyata ga bagus buat tanaman ?
Bahwa ternyata tubuh bisa sembuh sendiri ?
Jam berapa menjemur pakaian paling baik ?
Jam berapa kamu harus pakai krim wajah ?
Bagaimana kamu tau bahwa makanan itu pakai pemanis buatan atau gula alami ?
Tahukah bahwa Indoenesia bisa bayar hutang dengan aset karbon di hutan yg dimiliki ?


Jadi, kalau ada yang bertanya.. "Kenapa kamu masuk SITH ?" -- Saya jawab "karena saya bisa belajar kesempurnaan Tuhan ketika belajar di SITH"

"Lo ga mau masuk kedokteran lagi say ? " -- Saya jawab "ga, saya bahagia di sini" (bukan karena udah lulus lho yaa)

 " mau kerja apa nanti say ? " -- Kerja ? "Saya gamau kerja" begitu jawaban saya ketika saya ditanya mama. Mama sampe kaget, mungkin sedikit bingung.
"Saya mau mengajar"

Saya bukan hanya mau bekerja, saya mau berkarya.
Kerja apapun nanti, saya mau memberi manfaat seluas-luasnya dengan ilmu yang Allah amanahkan kepada saya. Saya mau, kolaborasi ilmu ini dengan keilmuan lain bisa membangun Indonesia. Menyelesaikan permasalahan yang sering bikin sakit hati. Mulai dari krisis BBM, impor beras, impor kedelai, impor cengek (oh mameen !), krisis air bersih, makanan basi, gizi buruk, epidemi penyakit..daann lain-lain

ga perlu kata tapi

penyelesaian masalah butuh optimisme dan niat yang lurus, bukan kata tapi.

Juli 2012.
Sekarang saya sudah menyandang gelar sarjana, bukan mahasiswi lagi. Ada tanggung jawab lain yang harus saya emban, apalagi saya akan segera melanjutkan studi. Allah pasti punya maksud dengan jalan hidup saya selama ini..

Saya jadi teringat dengan nasehat seorang guru besar ITB, "Kalau teknologi informasi di Indonesia ga maju, ya wajar lah. Tapi kalo ilmu hayati di Indonesia terpuruk, itu dipertanyakan. Apa yang nggak ada di Indonesia ?"

Apa yang nggak ada di Indonesia,  para life scientist ?

Regards,
@yosay_aulia

Thursday, 26 July 2012

Catatan Ramadhan 1433 #1


Semoga hari ke-6 tidak terlalu telat untuk posting ini yaa.. hihii

Bagi saya, Ramadhan selalu bermakna sama. Yakni adalah fasilitas yang diberikan Allah agar saya bisa bersikap jujur pada diri sendiri, pada nurani. Saya teringat dengan ucapan imam masjid Al Istighna Islamic Village, Ust. Naziri. Beliau mengatakan bahwa “Kalau kamu ingin melihat jati diri seseorang yang sesungguhnya, lihatlah ketika Ramadhan. Karena saat itu ia murni tanpa bisikan setan”
Logis.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ
“Apabila telah masuk bulan Ramadhan, terbukalah pintu-pintu surga dan tertutuplah pintu-pintu neraka dan setan-setan pun terbelenggu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu] (dari sini)

Inilah kondisi yang ideal. Untuk beribadah, menjadi abdi Allah, beramal, berbagi, dan tentunya mengendalikan hawa nafsu. Maka tak pelak, Ustadz Naziri bisa mengatakan hal demikian.

Mengendalikan hawa nafsu. Ya, manusia tak lagi bisa menyalahkan setan atas tindak kejahatan atau kesia-siaan perbuatannya. “Setan-setan telah ditahan dari menggodamu, maka jangan lagi kamu menjadikan setan sebagai alasan dalam meninggalkan ketaatan dan melakukan maksiat”.“ (Fathul Bari)

Semuanya ada pada kendali penuh manusia. Manusia, dengan nuraninya, semestinya bisa membedakan kebaikan dan keburukan, manfaat dan kesia-siaan. 
Maka jujurlah pada diri sendiri, sudahkah menjadi manusia penuh manfaat. Proses bertanya itulah yang membutuhkan kejujuran nurani, dan saat itulah kita menjadi sangat butuh berduaan dengan Pencipta. Berdua saja. Nurani kita memang selalu butuh disucikan dari daya pikat dan segala perbuatan yang beratas namakan duniawi -- yang hanya permainan. Kita perlu jujur tentang kekhilafan manusiawi, keserakahan, dan niat yang tidak lurus. Akui, mohon ampun, lalu perbaiki. Jujurlah pada nurani, agar ia tidak tertutupi oleh dosa-dosa yang terlalu lama diabaikan.


Oh, ngomong-ngomong tentang nurani yang dapat membedakan kebaikan dan keburukan (furqan), ini bukan kata saya lho.. ini kata Allah


Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al Anfal :29)


cukup jelas kan ? :) 


Ramadhan adalah cara Allah memfasilitasi hamba-Nya untuk mengenal dirinya sendiri. Untuk mengerti alasan penciptaannya. Untuk mengerti bahwa totalitas pengabdian kepada Allah adalah kebutuhan jiwanya. Maka satu-satunya musuh manusia ketika Ramadhan adalah : dirinya sendiri.
Sehingga tersabdalah perjuangannya lebih berat daripada kemenangan Badar.



Masih ada 20 hari lebih tersisa, Selamat menemukan jati diri, jujurlah pada nurani. Ia selalu mengajak kepada kebaikan J

Regards,
@yosay_aulia

Sunday, 22 July 2012

Lirik lagu "Lailatul Qadr" - Gigi


Margasatwa tak berbunyi
Gunung menahan nafasnya
Angin pun berhenti
Pohon-pohon tunduk
Dalam gelap malam
Pada bulan suci
Qur'an turun ke bumi
Qur'an turun ke bumi

Inilah malam seribu bulan
Ketika cahaya sorga menerangi bumi
Ketika cahaya sorga menyinari bumi
Inilah malam seribu bulan
Ketika Tuhan menyeka airmata kita
Ketika Tuhan menyeka dosa-dosa kita

Taukah Anda, siapa pengarang lirik tersebut ?





Taufik Ismail -- penulis lirik "Lailatul Qadr"

Well, yah.. Taufik Ismail.. Ga heran sih, liriknya menyentuh, mengena, namun ringkas.

Kalo yg penasaran sama lagunya, sekarang jadi theme song sinetrom ramadhan "Para Pencari Tuhan" jilid 6..

by the way, happy ramadhan :)

berkah selalu semuanya

Saturday, 28 April 2012

Sunset Bersama Rosie

Cover Novel Sunset Bersama Rosie

Inilah novel yang baru saja saya tamatkan.  Sunset Bersama Rosie karya Tere Liye (Penulis novel "Hapalan Shalat Delisa").Oh, sedikit cerita. Saya adalah penikmat tulisan Tere Liye selain Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa.

Seperti novel Tere Liye pada umumnya. Ciri khas novel ini adalah narasi indah melankolis dengan diksi tepat bermakna. Alur bolak balik (hahaha ini bahasa saya aja). Skenario yang tidak terduga. Pesan moral yang kompleks. Dan selalu ada epilog.

Novel ini bercerita tentang Tegar Karang yang menyimpan cita masa kanak-kanak nya kepada Rosie hingga dia dewasa. Bahasa gampangnya, susah move on. Saya sempat agak sebal dengan Tegar yang susah move on, membuat novel ini terasa sangat cengeng dan membosankan pada awalnya.

Latar cerita ini adalah tragedi Bom Bali II di Jimbaran yang juga merupakan awal konflik dari cerita.


Tegar adalah sahabat kanak-kanak Rosie, yang ternyata menyimpan cinta hingga dewasa, namun terpaksa dihancurkan. Rencana Tegar untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada Rosie di Gunung Rinjani pupus karena Nathan, sahabat Tegar dan Rosie, telah terlebih dahulu mengungkapkannya. Sejak saat itu, Tegar menghilang dari kehidupan Rosie dan Nathan. Tegar pindah dari kehidupan lalunya di Lombok ke Jakarta.

Cerita berlanjut hingga Bom Bali II terjadi yang menyebabkan Tegar segera menemui Rosie dan keluarganya, yang ketika itu sedang berada di Bali. Konfliknya semakin kompleks karena akibat kepergian Tegar ke Bali, Tegar terpaksa menunda pertunangannya dengan Sekar. Parahnya, Nathan meninggal, Rosie mengalami depresi hebat, dan anak-anak mereka butuh pendampingan sosok orangtua. Sosok itu adalah Tegar.

Pendampingan itu terus berlanjut hingga dua tahun. Selama dua tahun itu pula pertunangan Tegar dengan Sekar tertunda. Selama dua tahun itu pula fakta-fakta mengenai perasaan cinta Rosie kepada Tegar terkuak. Pilihan ada di Tegar.


Tere Liye mampu menggiring pembaca untuk dapat turut memberikan opini tentang apa yang seharusnya diputuskan Tegar.


Secara umum novel ini mengajarkan dua hal kepada saya.

Pertama, tentang ketegasan kita kepada perasaan yang kita miliki. Menurut saya, salah satu penyebab konfliknya adalah karena Rosie dan Tegar sama-sama tidak menciptakan kesempatan untuk mewujudkan cinta mereka. Pesan moral ini mengajarkan kepada saya untuk dapat menciptakan kesempatan terwujudnya hal-hal yang dicintai. Apapun itu.

Kedua, tentang ketegasan untuk berdamai dengan masa lalu bukan melupakannya. Di novel ini dibahas juga perbedaan berdamai dan melupakan masa lalu. Berdamai artinya kita bisa memaafkan masa lalu dan berani untuk melangkah ke kehidupan selanjutnya tanpa ada bayangan masa lalu sedikitpun. Melupakan artinya memaksa benak kita untuk membuang potongan cerita lalu, tanpa pernah berdamai dengannya.

Novel yang bagus, banyak cerita tentang keindahan Gili Trawangan Lombok, dan bikin saya pengen punya anak seperti anak-anak Rosie di novel itu.

Selamat membaca :)

Regards,
Yosay/

terima kasih

Well, pagi hari ini saya tiba-tiba teringat dengan suatu fragmen cerita dalam kehidupan saya. Ehm, sebenarnya kehidupan orang lain, yang dibaginya dengan sukarela.

Alkisah seorang dosen di suatu perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Bagi saya, kehidupan keluarga dosen tersebut menarik. Kehidupan yang sederhana, jauh dari kemewahan, namun menghasilkan anak-anak yang memeiliki kualitas pendidikan yang tidak diragukan (secara kepribadian dan intelektual). Terus terang, saya mengagumi keluraga dosen tersebut sejak awal saya mengenalnya...

Suatu kali saya dan beberapa teman saya berkesempatan dijamu makan malam oleh dosen tersebut. Makan malam yang menyenangkan dan padat makna karena dosen tersebut banyak membagi pengalamannya, nilai-nilai kehidupannya, serta bercerita tentang kisahnya yang inspiratif. Saya mendapatkan banyak pengalaman dan pengayaan khasanah sudut pandang. Inspiratif.

Hingga pada suatu cerita yang membuat saya hampir menitikkan air mata.

Awalnya kami (saya dan teman-teman) menceritakan keresahan kami mengenai pilihan-pilihan kami dalam hidup. Apalagi usia kami saat ini terbilang rentan dan menemui banyak persimpangan pilihan. Kami merasa perlu mendapatkan perspektif lain dalam mengambil keputusan dalam hidup.

Yah, seperti anak muda pada umumnya. Keresahan kami meliputi pilihan karir, langkah yang akan diambil selepas menempuh pendidikan sarjana,  dan jodoh. Saya seorang teman saya yang memiliki cita-cita sebagai dosen menyampaikan keresahan yang kira-kira berbunyi tapi Om, kami saat ini merasa minder karena penghasilan sebagai dosen tampaknya masih jauh lebih kecil daripada orang-orang yang bekerja di perusahan multinasional.

"Besar kecil penghasilan itu sangat relatif.." begitu tanggapannya.

Kemudian Beliau melanjutkan,

Suatu kali saya ditanyakan oleh salah seorang rekan kerja saya. "Pak, emang penghasilan Bapak sekarang cukup ? Kenapa Bapak kurang agresif mencari proyek lain?"

Mengernyitkan dahi, mengingat-ingat "Saya merasa cukup.. memang kenapa?"

"Lho, kan ada aja permintaan anak-anak.. minta Blackberry lah, minta ini minta itu.."

Tersenyum, "Tidak, anak-anak saya tidak pernah meminta hal seperti itu.."


Maka ketika om pulang, om panggil semua anak-anak om. Om peluk mereka semua.. Om katakan. "(meneybutkan nama anak-anaknya).. papap berterima kasih kepada kalian untuk tidak pernah banyak menuntut banyak hal.. Kalian anak-anak papap yang baik-baik.. Papap sayang kalian semua.." Kemudian om cium mereka satu-persatu..

Seketika itu mata saya berkaca-kaca. Saya (terpaksa) harus menahannya agar tidak tumpah. Pun ketika saya menuliskan kembali kisah ini. Maka manifestasi yang terlihat saat itu hanya terkejut menutup mulut dengan mata berkaca-kaca dan berseru " Ah... Om...". Padahal rasanya dalam hati ingin memeluk Om satu ini... Subhanallah... Untung saja beliau segera melanjutkan ke cerita yang lain sehingga fokus saya bisa berpindah ek cerita selanjutnya.

Tapi saya terlanjur mencatat cerita itu dalam hati saya.


***


Terima kasih.

Seringkali kita (lupa) berterima kasih (bahkan) pada hal-hal yang sengaja dilakukan atau diberikan. Ketika diberikan penghargaan, bantuan, diantarkan makanan oleh pramusaji, dipersilakan masuk oleh resepsionis, diperiksa tas ketika memasuki gedung perkantoran, disiapkan makanan oleh keluarga kita, diberi senyuman, diberi honor oleh atasan, ditelpon oleh sahabat. Seringkali kita (lupa) berterima kasih (bahkan) pada hal-hal seperti itu.

Tapi pernahkah kita berterima kasih kepada hal-hal yang (sengaja) tidak dilakukan oleh orang lain. Contohnya, fragmen cerita seorang dosen di atas. Pernakah kita berterima kasih pada ayah yang tidak marah ketika kita pulang malam, kepada ibu yang tidak banyak komplain (msekipun sangat ingin anaknya menghabiskan waktu bersama di rumah) kepada kita yang sering pulang malam karena alasan khas aktivis.

Saya sendiri tidak tahu, apakah itu faktor budaya atau faktor karakter manusia urban masa kini. Sejauh saya pergi dari desa terpencil di Indonesia hingga negara maju di Eropa, mereka mengucapkan terima kasih dengan wajah sumringah dan tulus. Lagipula, ketika saya membuka buku travel guide di berbagai negara, selalu ada kamus kecil untuk ungkapan-ungkapan sehari-hari. Dan disana ada ungkapan "Terima kasih" dari berbagai bahasa, budaya, bangsa.  Maka saya  pikir, (enggan) mengucapkan terima kasih sama sekali bukan tentang budaya.

Lalu tentang apa ?

Saya juga tidak tahu.

Yang saya tahu, ucapaan terima kasih merupakan manifestasi terendah dari rasa syukur. Bila mengucapkan terima kasih saja enggan, bagaimana dengan ungkapan syukur yang lebih tinggi seperti bekerja keras atau berlaku adil ?Bukankah syukur adalah separuh iman (dan separuhnya adalah sabar).

Saya hanya berniat berbagi dengan tulisan ini. Sekaligus mengingatkan diri sendiri yang masih sering alpa mengucapkan terima kasih. Tulisan ini sungguh sangat minim. Sebab ada Dia yang mengingatkan dengan cara lebih indah dan sarat makna.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'.'' (QS 14: 7).

Kembali pada kehidupan dosen tersebut. Saya jadi berpikir pantaslah beliau mendapatkan keluarga yang luar biasa inspiratif. Sebab beliau sangat pandai berterima kasih. Bersyukur. Maka tak pelak, Allah pun ridho menambah nikmat-Nya. Berupa keluarga hebat dan anak-anak yang membanggakan.

Maka bila ada hal yang kurang berkenan dalam kehidupan ini, lupakan saja. Alihkan pikiran kepada hal-hal yang membuat kita bersyukur. Ucapkan terima kasih. Kemudian lihat apa yang terjadi.


Terima kasih telah membaca postingan ini :)

Regards,
Yosay