Showing posts with label catatan hati. Show all posts
Showing posts with label catatan hati. Show all posts

Wednesday, 11 January 2017

Kerja Keras adalah Rizki

Maha Besar dan Maha Luas rizqi-Nya, selalu di luar pemahaman manusia.

Para kekasih Allah memahami, baik rizqi yang mereka nikmati maupun kerja yang mereka baktikan; keduanya adalah karunia Rabb mereka, untuk disyukuri dan diihsankan. (Salim A Fillah, 2014– Lapis-lapis Keberkahan; bab Setitis Rizqi)

Sebagian besar manusia menganggap rizki adalah sesuatu yang berwujud materi, atau hal-hal yang terlihat kasat mata secara duniawi. Misalnya, rekening, jumlah anak, jumlah rumah dan tanah, kendaraan, pekerjaan, jabatan, kerabat, dan networking.
Semua itu memang benar merupakan bentuk rizki. Tidak ada yang salah.
Tapi saya beberapa kali tercenung dengan suatu konsep yang menggembirakan dalam fase krisis seperempat abad. Yakni, kerja keras adalah rizki.
Ya, selain kesehatan dan waktu luang yang mutlak merupakan rizki, kerja keras pun demikian.
***
Selepas lulus pendidikan sarjana, saya terhitung belum pernah secara profesional di suatu perusahaan (non akademis) sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan master. Saat itu pikiran sempit saya merancang selepas master langsung melanjutkan doktor. Tapi takdir berkata lain.
Kehidupan saya di Belgia kala itu merupakan babak baru dalam membuka lembar berikutnya. Seperti efek domino. Cepat sekali dan beruntun tidak bisa dikendalikan. Begini kira-kira: ke Belgia-ketemu jodoh-menikah-hamil-lulus master-ikut suami ke Belanda-melahirkan-… (Dst).
Bahkan ada yang mengatakan: “di usiamu yang semuda ini, kamu sudah begini dan begitu.. Wow hidup yang sibuk.” . Pertama saya setuju dibilang masih muda (yes!). Kedua saya juga setuju dibilang sibuk (sok sibuk sih lebih tepatnya).
Nah, di masa pendidikan master dan maternity leave ini kemudian saya merenung dan menyadari bahwa disiplin ilmu yang saya pelajari dan dipercayakan oleh Allah kepada saya wajib diamalkan. Rancangan saya berubah haluan. Kalaupun saya nanti akan melanjutkan pendidikan doktor, saya harus tahu bagaimana implementasi ilmu ini di lapangan. Saya mau bergerak dari akar rumput hingga menara gading. Saya tidak mau hanya terkenal di konferens dan jurnal keilmuan tapi rakyat masih menagih hasil nyatanya. (Fyi, bidang teknologi pangan memang perlu aplikasi di lapangan. Mungkin disiplin keilmuan lain berbeda). Dan lebih jauh lagi, ada misi besar yang harus dicapai dengan implementasi itu.
Kemudian saya berpikir untuk bekerja. Mencari pengalaman sekaligus berdakwah dan mengaplikasikan ilmu. Tapi saya belum pernah bekerja secara profesional. Ijazah pun tidak cukup kuat dengan profil yang minim pengalaman, bersaing di bursa kerja non domestik, plus saya berjilbab.
Dimulai dari googling, mencari networking, menulis CV dan surat lamaran-mengubah-merevisi sana sini- meminta feedback dari teman dosen dan profesor, berdiskusi dengan suami dan orangtua, dan meluangkan waktu untuk mempersiapkan dokumen di sela kepadatan merawat bayi, saya memulai langkah itu. Pertama, mendapat feedback dari komputer sistem company luar biasa senang rasanya. Meskipun beberapa hari kemudian jawaban akhirnya ditolak. Mulai dari kecewa, putus asa, berprasangka buruk, Inbox email berisi jawaban dari berbagai company dan linkedin, puluhan bahkan ratusan pintu sudah dibuka. Mulai dari wawancara via telepon, datang ke kantor mereka, ditanya kemampuan bahasa belanda, skill dasar keilmuan, bahkan nama anak. Semua nihil.
Ditambah omongan orang sana sini yang mencibir dan pro kontra ibu bekerja. Plus ketidak percayaan beberapa pihak kerabat bahwa saya, suami, dan baby bisa menjadi tim yang kompak dan mengatasi semuanya. Semua dihadapi.
Rasanya semua pintu tertutup dan hanya ada tembok tinggi menjulang.
Saya putus asa. Ingin marah. Kenapa saya dulu tidak bekerja sebelum master, kenapa beberapa pihak dari keluarga meragukan saya dan menganggap kami masih anak kecil, kenapa semua perusahaan ingin saya bisa berbahasa Belanda (yaiyalah) dan kenapa saya tidak bisa lancar berbahasa Belanda selancar berbahasa Inggris atau Indonesia.
Sampai detik saya menulis inipun kejengkelan itu masih terasa. Terutama kepada oknum yang meragukan saya baik secara personal atau profesional.
Tapi selalu ada kebaikan menyertai kesulitan. Suami yang mendukung (ya, suami saya mendukung alhamdulillah. Termasuk bersedia menjadi juru bicara di hadapan keluarga besar(nya)). Saya memiliki kesempatan untuk mengurus Fatih sepenuhnya sampai setahun. Kesempatan mencoba berbagai resep masakan. Mengikuti kursus Belanda intensif, dan menjadi volunteer di berbagai acara ppi.
Tanpa saya sadari bahwa ternyata kegagalan saya adalah rizki. Rizki untuk berkesempatan mencoba, membuka pintu, menulis surat lamaran, membuat cv yang baik, menulis body email, menjalani interview di berbagai media, menerima kekurangan dan menyadari potensi dan minat, merasakan kegagalan untuk bangkit kembali, membangun kepercayaan diri, dan belajar berdiplomasi untuk meyakinkan berbagai pihak tentang langkah ini.
Untuk saya ini sulit meskipun untuk sebagian orang mudah saja. Itu artinya kemudahan adalah rizki bagi mereka, sedangkan rizki bagi saya adalah warna warni rasa perjalanannya. Kalau ada yang bertanya apa rahasianya, saya agak bingung menjawabnya. Karena saya sendiri merasa sulit, tidak punya jurus sakti apapun selain berani melangkah dan berdoa dengan niat ikhlas. Mungkin saya akan menjawab “ya, berani coba aja”. Ugh. Terdengar menyebalkan memang, dan agak non sense. Bisa saja dibalas dalam hati “yaiyalah kalau tidak dicoba ya mana bisa”. Nah memang benar kan, kalau tidak dicoba ya mana bisa. Di percobaan pertama pasti semangat membara, tapi jarang ada yang mau bangkit lagi di tengah kejenuhan melihat kegagalan. Apalagi yang dituntaskan hingga dapat.
Di tengah kejenuhan menghadapi kegagalan, saya tersadar saat membaca quote yang saya kutip di atas. Betapa sombongnya saya, menganggap Tuhan belum mau bermurah hati untuk membukakan pintu riziki-Nya kepada saya. Padahal,,,,,,,,,segala kegagalan dan cerita jatuh bangun ini adalah rizqi. Kerja keras adalah rizqi; sebab tidak semua dianugerahi kemauan untuk terus mencoba, tidak semua dikuatkan untuk bangkit lagi, dan tidak semua dimudahkan untuk bersabar dan mendirikan shalat. Bila semua kemudahan itu saya dapatkan, lalu kenapa saya harus sombong.
Kalau kebandelan saya untuk tidak mau menyerah bisa dikatakan sebagai rizki, maka saya bersyukur sekali karena Allah memberikannya kepada saya. Berterima kasih kepada suami yang menyanggupi untuk bekerja sama sebagai tim agar masing-masing berkembang. (Fyi, untuk yang masih jomblo, kesepahaman antar pasangan tentang konsep pengembangan diri dan keluarga perlu diseragamkan lho). Plus saya ingin meminta maaf kepada pihak yang meragukan saya baik secara langsung atau tidak langsung di ranah personal dan profesional; bahwa dengan segala hormat, keraguan saudara saudari bapak ibu sekalian malah menambah semangat saya membuktikan bahwa hipotesis kalian hmmm perlu dicek ulang.
Kerja keras adalah rizqi, maka berfokuslah pada tugas masing-masing yang perlu dituntaskan dengan kesungguhan hati. Sebab kita tidak dihisab tentang amal orang lain, melainkan amal diri sendiri.
Jangan salahkan setan, memang tugasnya untuk mengganggu. hoho.

Regards,
Yosay Aulia

Thursday, 5 November 2015

Rendah Hati

Apa yang berbeda dari pengalaman menempuh pendidikan di tanah Eropa (untuk kasus saya, di Belgia) dan tanah air ?
 
Bahasa, beban dan ekspektasi akademis yang sangat tinggi, kemandirian, lingkungan internasional, fasilitas yang memadai, akses jurnal yang luas, kebebasan berdialektika, tantangan kehidupan non akademis, dan banyak lagi.
 
Tapi kali saya ingin berbagi nostalgia tentang profesionalisme dan kerendahan hati para akademisi (setidaknya dari pengalaman saya dan beberapa cerita yang pernah mampir di telinga).
Di sini saya lebih banyak belajar budaya daripada teori sekolah. Sebab faktanya hal non akademis sering menjadi variabel yang berpengaruh besar pada kesuksesan akademis. Banyak sekali yang berbeda dan membuat saya mengalami gegar budaya sehingga membuat saya terengah-engah mengejar materi akademis di semester awal perkuliahan.  Salah satunya adalah : berdialektika dengan rendah hati. Mereka menyebutnya (ketika berada di kelas yang "pemalu") :tell me in a respectful way.
Ya. Tanyakan saja ketidak mengertianmu. Sampaikan saja pemahaman dan pendapatmu. Ungkapkan saja letak kesulitanmu. Merasa bodoh? Katakan saja. Butuh surat rekomendasi ? Punya ide tesis yang berbeda ? Butuh bantuan diplomasi ? Any profesional problem, tell them. We can discuss in a respectful way.
 
Saya merasa amat kesulitan dan ketakutan di awal. Saya takut dimarahi, dipandang sebelah mata, atau dianggap tidak sopan bila bertanya atau menyampaikan pendapat. Dan saya lihat beberapa teman setanah air juga mengalami hal yang sama. Hm, mungkin wajar saja sebab sketsa berikut ini jarang terjadi di tanah air (ada, saya pernah menyaksikan langsung, tapi jarang).
 
-Ketika ada tawaran perpanjangan beasiswa, saya mencoba untuk daftar atas saran pembimbing akademis saya. Saat itu saya kebingungan mencari profesor mana yang akan saya mintai tolong sebab saya merasa belum pernah terlibat intensif dengan siapapun. Akhirnya saya memilih seorang profesor (kalau di indonesia, disebut kaprodi). Saya mengirim email, menyampaikan maksud saya. Di hari yang telah dijanjikan, saya mengkonfirmasi beliau dan beliau setuju untuk mendiskusikannya di ruangnya. Di akhir diskusi, beliau tanyakan deadline aplikasinya dan dijanjikan akan selesai sehari sebelumnya. And it was done perfectly!
 
- saya sangat tidak mengerti sama sekali tentang suatu matakuliah meskipun telah membaca seluruh materi berulang kali. Akhirnya atas dorongan asisten akademisnya, saya mengirim email untuk membuat janji "les privat". Pada hari yang ditentukan, dengan membawa setumpuk materi, saya tanya berapa lama waktu yg tersedia untuk saya? Dijawabnya "anytime until everything is clear" huhu terharu. Dan simsalabim! 2 jam beliau saya ambil khusus untuk menjelaskan materi. Terharu sih. Ketika sarjana saya (dan beberapa teman saya) sering kehilangan kelas karena dosen yang sibuk. Di sini saya mendapatkan priviliege (asalkan membuat janji).
 
- Seorang kawan bercerita bahwa ia pernah dalam suatu waktu tutorial dengan profesornya dalam waktu yang dijanjikan. di tengah sesi tersebut, datanglah orang penting yang berkaitan dengan proyek besar. Profesor tersebut mengatakan bahwa ia sedang memiliki janji dengan mahasiswanya dan meminta tamu penting itu untuk menunggu, karena ada hak lain yang perlu dipenuhi.
 
- Ketika seorang guru besar turun dari panggung dan menunggu seorang wisudawati (saya) di belakang layar hanya untuk mengucapkan selamat secara personal. Saat itu saya hanya bisa berucap terima kasih untuk menggambarkan suasana hati yang membuncah buncah.
Kerendahan hati. Sederhananya berupa mengucapkan terima kasih, maaf, permisi, tolong, dan silakan. Atau berupa mengambilkan pulpen yang terjatuh, menyapa mahasiswa terlebih dahulu, menyediakan waktu lebih untuk mendidik dan memberi pemahaman, berkeliling kelas untuk mengambil sisa makanan dan membuangnya ke tempat sampah, atau sekedar mengakui bahwa sistem negaranya memiliki kelemahan.
 
Dengan kerendahan hati, ruang diskusi menjadi hidup dan terbuka luas sebab tidak ada yang merasa paling benar. Permintaan tolong pun menjadi lebih manusiawi sebab tidak ingin merepotkan orang lain. Menyampaikan feedback dan ketidak setujuan pun tidak terasa pedas karena disampaikan penuh hormat. Memberi pertolongan selalu ingin tuntas karena merasa bertanggung jawab. Mengerjakan apa yang bisa dilakukannya sendiri sebab tidak merasa lebih tinggi.
 
Saya juga baru sadar bahwa ternyata saya belajar hal yang luar biasa di sini. Di tanah yang penduduknya dikatakan individualis dan dingin. Di sini, saya melihat dari sisi yang berbeda.
Tulisan ini ingin menyoroti pelajaran yang saya peroleh sebagai objek yang menerima perlakuan rendah hati dan penuh hormat. Pun sebagai subjek yang masih terus belajar untuk selalu bersikap demikian.
 
 
Bahwa bersikap rendah hati adalah buah manis keimanan dan kecerdasan.
Regards,
Yosi Ayu Aulia

Saturday, 26 January 2013

pemimpin sebenarnya



dan dia adalah seorang ibu.
Seorang ibu yang baik tidak akan membentuk seorang anak yang bisa hidup dengannya, melainkan yang bisa hidup tanpanya. Itulah keberhasilan pendidikan dari seorang ibu.

Terima kasih, Tuhan untuk ibuku, ibu orang tuaku, ibu suamiku, dan ibu orangtua suamiku. Sayangi mereka, Tuhan..

aamiin


Regards,

@yosay_aulia

Thursday, 20 December 2012

Marylise


Adalah sahabat yang dipilihkan اللّÙ‡ُ. Benar-benar Dia yg pilihkan. Saya ga pernah meminta sahabat sebaik dia.


Semua berawal dari sini



30 sept 2012.
Jembatan Sungai Coupure. Ketika saya merasa sangat lelah berjalan sepanjang hari orientasi mahasiswa baru UGent,, saya mengambil langkah agak lambat sehingga tertinggal di belakang. saya memastikan bahwa -setidaknya- ada orang lain di belakang saya agar saya tidak tersesat. Kemudian saat itu,  ketika saya menengok, tersembullah sosok perempuan dg wajah tirus klasik menanyakan "so, what's your name ?" "I'm yosi, and you?" "I'm marylise". "Nice to meet you, marylise" "nice to meet you too" "where are you from" "I'm from france". ..



Sejak saat itulah berbagai cerita mengalir. Tentang hobinya memasak, ibunya yg bisa menjahit memasak menyulam (di jaman ini). Ayahnya yang super baik hati. Kakaknya yang bekerja di Kenzo. Dia yang sangat pandai di kelas. Semua makin erat ketika dia mengundang kami makan siang bersama di kosannya. Linguini saos salmon cream.





Dia sahabat yang baik. Sangat baik



Bayangkan, dia gadis eropa 23 tahunn. Tidak merokok, minum wine dan sejennisnya, masih menikmati waktu malam bersama orangtuanya, memasak bersama, dan terbiasa mengundang teman2nya menginap di rumahnya yg super nyaman. Kalau kedinginan dia minum coklat panas, bukan, meminum bir atau merokok. Ingat sekali lagi, dia gadis Eropa.



Awalnya saya agak menjaga jarak dengan dia, namun suatu kejadian membuat hati saya mennjadi hangat. Saat itu, kuliah tengah dimulai namun cuaca Gent dingin sekali sehingga tangan saya terasa hampir beku, saya hanya meletakkan tangan di dalam saku. Saya tidak mencatat seperti biasanya. Kemudian dia bertanya "why?" "It is cold, my hand is cold". Sejurus kemudian dia menggulung lengan bajunya ke atas dan mengatakan "hold my hand" "?" "Hold my hand". Saya turuti perintahnya. Dan, itu hangat,  pun dalam hati. Barulah saya mengerti. Dalam hati saya tertegun dan terenyuh dengan kebaikan dan bantuannya yg fungsional. Tepat guna.




Ada juga sarannya yg sangat attentive dan -lagi- tepat guna. "Yosay, I suggest you to buy a fish oil as vit D supplement because in the winter you will have a shorter periode of sunlight which is not usual for you as tropical country person" yes! I agree. Ah, lebih tepatnya saat itu saya berpikir. Bener juga ya ! Duuhh saya aja ga kepikiran.. 



Dan hal lain, hal lain, hal lain... Kami sudah ada di tahap "saling meledek dan memarahi bila saya terlambat" pun akan diterima dengan senang hati. Saling memberi saran, bisa meminta makan apapun dan kapanpun. Dan minjem uang di saat terdesak. Bahkan memamerkan koleksi lagu, hadiah natal, koleksi makanan awetannya, menceritakan rahasia kecil, dan mengkhawatirkan saya ketika saya (pernah) menangis di kelas. Dia sahabat yang baik.



Dan kebaikannya ternyata sistemik dengan keluarganya. For sure !



###


Puncaknya adalah ketika saya berkunjung ke Lyon, tempat keluarga Marylise tinggal, untuk banyak tujuan. 1,ulangtahun ali. 2,fete de lumiere. 3,membicarakan banyak hal dg ali. Saya menginap di rumahnya. Daaannn semuanya terorganisasi dengan sempurna.




Mereka menawarkan makan malam bersama, tempat menginap, dan bantuan transportasi dan penunjuk jalan. Bahkan mereka menawarkan ali tempat menginap, krn mengkhawatirkan wktu yg terbuang percuma untuk PP Eculy (rumah ali) - Lyon (rumah marylise) . dan transportasi yg sulit di tengah malam.



Keluarganya baik banget ! Dominique sang ayah sangat perhatian dan mengayomi. Cathrine sang ibu sangaaattt luar biasa. Mereka sangat peduli dan perhatian dengan kenyamanan, keamanan, dan kebutuhan tamunya (terutama saya). Mulai dari sambutan hangat di awal pertemuan, welcoming soup, tawaran ke toilet sebelum berangkat keliling kota menikmati fete de lumiere. "we will come back here at 1 or 2 am,, not less. Are you sure not to go to toilet?" . Memastikan kami selamat dan tidak tersesat selama di festival. Memastikan kami membawa bekal dan minuman yg cukup.



Puncaknya ketika makan malam.
Mereka menyiapkan dengan sangat apik dan seksama. Hadiah bunga dari kami, mawar putih, yg tnp disengaja ternyata adalah kesukaan keluarga mereka, alhamdulillah cukup bisa "membayarnya" meskipun tidak akan setara.

Appetizer : zuccini soup yang super enaak.
Main course: Mereka menyajikan makanan khas Lyon berbahan ikan dan sayur.
Dessert: keju ! Ini menarik karena marylise tau bahwa saya pecinta keju. Ada berbagai jenis keju, dan saya paling suka keju berusia 30 bulan yg well fermented. Apalagi dimakan pake walnut. The best !



Selanjutnya, surprise party untuk ulangtahun ali. Marylise dan cathrine datang membawa kue ulang tahun penuh lilin untuk ali. Dan ali merasa sangat bahagia dan surprised.



Oh, btw ttg surprise ini. Jauh hari sebelum saya memesan tiket ke lyon, saya menceritakan bahwa tgl 8 desember ali berulangtahun. Kemudian dia membujuk-bujuk saya setengah mati untuk bisa datang ke lyon di tanggal itu. Dia katakan "yosay, what do you think anymore not to go to lyon.. First, you can see ali. Second, it is on his birthday. Third,  the festival." Oke, alasannya cukup membuat saya luluh hingga akhirnya saya memesan tiket ke lyon.



Seminggu sebelum keberangkatan, saya menceritakan rencana saya untuk surprise bagi ali. Saya katakan, "marylise, I want to make cake for ali's birthday. What cake do you think is good" "you can make anything and you can make it in my house" dug! Baik banget. Padahal saya berniat membuatnya sendiri di dapur housing...



Well, hingga hari H. Saya, marylise, dibantu mamanya sebagai chef membuat brownies untuk ali. Cepat dan mudah. I can do it by myself (later on) !



Hingga akhirnya momen itu tiba. Surprise party yang dinikmati bersama. Mengesankan. Hahaha. Sebenernya ini ga terlalu sulit sih, mungkin karena saya senang melakukannya. Tapi ali bahagia sekali mendapatkan ini. Dan. Saya jauh semakin bahagia.. Hihihi.. By the way, wish you all the best ali !




Well... Berikut ini beberapa point yang membuat saya sangat bersyukur bertemu dengan marylise.



1. Dia sangat attentive dan bertoleransi. Dia tau saya dan ali adalah seorang muslim. Dia katakan bahwa semua dipersiapkan sebagai halal food, tanpa pork, tanpa wine dan alkohol. Dan, bahkan berbahan ikan. Bisa saja dia membuat makanan berbahan dasar ayam atau daging lain. Tapi, dia memilih ikan. Mungkin karena setiap makan siang d kantin, saya selalu memilih ikanyag sudah pasti halal".



2. Saya tidur di kamar kakaknya, yg bersebalahan dengan kamarnya, kamar mandi, dan toilet. Terletak di dalam lorong yg bisa ditutup. Setiap malam ketika saya hendak tidur dan pagi ketika saya perlu ke kamar mandi, lorong itu tidak pernah dibuka. Karena mereka tau saya butuh membuka jilbab saya untuk alasan praktis, dan ayahnya tidak boleh melihat saya tanpa jilbab. Mereka hanya akan membuka lorong bila saya yang membukanya terlebih dulu. Indah sekali makna toleransi itu ya.. 



3. Mereka keluarga pecinta ikan. Bukan babi. Heheheheheh



4. Sebenernya saya merasa bersalah karena lupa membawa kopi indonesia untuk ayahnya. Untungnya Cathrine suka dengan syal batik dan the indonesia. :)  semoga di kesempatan lain saya bisa berkunjung ke sana, saya bisa membawa kopi untuk dominique. Maafkan saya ya, om.. 



5. Mereka terbuka dengan kami. Menceritakan banyak hal, tentang lyon, pertemuan cinta ayah ibunya, rumahnya di countryside, dan festivval-festival menarik di lyon.



Dari cara kehidupan mereka, saya belajar banyak hal.



1. Ketulusan persahabatan
2. Memuliakan tamu. Ada hal menaik tantang ini.  Mereka menyiapkan makan malam dengan menu ikan, bukan ayam atau sapi. ¨Padahal bisa saja mereka menyiapkan sapi atau ayam, selain babi. Tapi Marylise selalu memperhatikan saya yang selalu membeli menu ikan untuk makan siang. Mereka juga tidak pernah membuka pintu lorong _ sebelum saya yang membukanya di pagi hari ketika saya sudah berpakian rapi_ yg menghubungkan kamar tempat saya menginap dan kamar mandi yg saya pakai dengan dapur yang merupakan ruang bersama. Karena ? Mereka tahu saya berjilbab dan ingin membeikan ruang bagi saya untuk melepas jilbab ketika harus melepasnya untuk keperluan praktis ke kamar mandi.
3. Kerjasama tim (baik ibu,ayah,dan marylise bekerja sama melayani tamu. Bahkan ayahnya tidak segan2 mencuci piring)
4. Sederhana
5. Mencintai binatang



Kemudian, lagi. Selalu terucap syukur dari setiap tanda cinta-Nya.  Terima kasih tuhan, telah memilihkan sahabat yang baik untuk saya di awal-awwal masa perjuangan ini. Terima kasih telah , dengan lembut, menyadarkan saya kembali bahwa pilihan Mu memang selalu tepat. Aku mencintaiMu.





Regards,

@yosay_aulia

Friday, 30 November 2012

2 novel lagi

karya Tere Liye, salah satu penulis favorit saya.

Ayahku Bukan Pembohong



dan 
Rembulan Tenggelam di Wajahmu



Kedua novel ini, jujur, mempengaruhi kehidupan saya di Tanah Eropa ini. Terutama mengenai etika. Saya kembali diingatkan bahwa berbagai karya sastra-- baik tulisan, lagu, novel, atau puisi-- selalu bisa menjadi media pendidikan yang menarik dan mengena. Tajam tanpa melukai, bermakna tanpa menggurui. Lembut.


Novel pertama bercerita tentang seorang ayah yang mendidik anaknya melalui cerita dan dongeng - yang dianggap terlalu utopis dan imaginer - namun sarat dengan nilai etika. Dongeng sang ayah yang di kemudian hari - ketika si anak beranjak dewasa dan mulai berpikir kritis- dianggap bohong itu, ternyata memberikan efek luar biasa bagi kepribadian dan karakter anak itu. Si anak tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab, dapat dipercaya, kreatif, dan berhati lembut. Novel ini juga menceritakan kehidupan si anak mulai dari pertengakaran usia sekolah dasar, kompetisi berenang, kasih sayang dnegan seorang ibu, dan ketika dia mulai jatuh cinta dengan seorang gadis.

Hal yang menarik bagi saya, yang seorang perempuan dan penikmat novel adalah karakterisasi anak tersebut melalui dua percakapan berikut ini : (kurang lebih ya, saya lupa tepatnya)

"Hanya Dam yang menyengir ketika disikut oleh kawannya, tersenyum ketika diselak dalam antrian, dan mempersilakan perempuan ..."

dan

"ibu lupa, ibu wanita nomor satu di dunia"

Terasa ya, bagaimana indahnya kepribadian anak bernama Dam itu. Praktis, novel ini mengajarkan saya bagaimana menjadi orang tua nantinya dan bagaiman beretika kepada sesama. Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk selalu mendongengkan kisah-kisah penuh etika kepada anak saya kelak seperti ayah saya mendidik saya, semoga Allah mengingatkan saya.


Novel kedua bercerita tentang kehidupan seorang pemuda yang dianggapnya selalu sial dan tidak pernah bahagia. Ia selalu menyalahkan keadaannya yang dianggap sial itu. Padahal ternyata keadaan itu diciptakan Allah untuk suatu alasan yang selalu baik, namun pemuda itu tidak pernah mengetahuinya.

Hal menarik dari novel ini adalah ketika pemuda itu bertemu dengan perempuan gigi kelinci, yang kelak menjadi istrinya. Perempuan itu selalu berkata,

"... Tapi aku tidak butuh itu (berlian), asalkan kau ridho denganku, dengan masakanku, itu sudah cukup bagiku" sambil mencubit perut suaminya.

Manis dan indah.

Bagi saya, kedua novel itu sangat menginspirasi saya sebagai perempuan. Di sini, identitas saya sebagai seorang muslimah sangat disoroti, maka etika saya akan sangat diperhatikan. Hal lain adalah, saya kemudian belajar meningkatkan kapasitas diri saya sebagai seorang istri dan ibu kelak. Mendukung suami, keterampilan rumah tangga, bersabar dan qanaah, serta memiliki cinta yang besar dalam mendidik anak-anak.

Tulisan ini adalah manifestasi terhadap kerinduan membaca novel, yang belum terpenuhi akibat jadwal akademik yang padat. Tapi saya menikmati itu, selalu ada banyak hal yang bisa disyukuri.

Terima kasih,Allah :) untuk kesempatan membaca novel tersebut, dan kesempatan mengaplikasikannya di sini.

Regards,

@yosay_aulia


Sunday, 25 November 2012

gent : silaturahmi -1



Silaturahmi adalah salah satu nilai yang ditanamkan baik-baik oleh keluarga saya. Alhamdulillah saya selalu diajarkan untuk menciptakan, menyambungkan, dan memelihara silaturahmi oleh keluarga saya. Saya pun selalu berusaha untuk mengamalkan nilai yang satu ini. Sisi positif dari silaturahmi adalah : persaudaraan, inspirasi, dan tolong-menolong; lebih dari sekedar networking.
Kehidupan perempuan single seperti saya di negeri yang jauh berbeda dari tanah air tentu seringkali memberikan rasa khawatir, kesepian, dan kecemasan lain. Silaturahmi selalu menjadi cara paling ampuh untuk mengobati itu semua.
Dan, di sini saya belajar 2 hal. Pertama, mempertahankan silaturahmu dengan sesama muslim dan atau teman setanah air . Kedua, menciptakan silaturahmi dengan non muslim dari bangsa lain. Banyak teman, banyak cerita, banyak pengalaman, banyak inspirasi, dan pasti banyak belajar.
Ctt 1
Silaturahmi bumbu pecel

Siang ini saya berkesempatan untuk bersilaturahmi ke keluarga Pak Andy Asfandiyar, dosen FSRD ITB yang sekarang sedang tinggal di Belgia. Pencetus KPMI (Keluarga Pengajian Muslim Indonesia- Belgia) Kids. Kami menjadi sangat dekat karena tante saya menitipkan bumbu pecel Indonesia kepada Pak Andy (yang ternyata adalah temannya tante). Simpel deh, dari sekedar meneruskan silaturahmi dari bumbu pecel, pengalaman saya bisa sebanyak ini. Alhamdulillah. Kami banyak bercerita tentang kehidupan kampus, pendidikan anak, sampai sistem pertanian di Eropa. Ada satu pernyataan yang saya catat dalam-dalam.

Bicara kepada anak2 itu, bukanlah "jangan lakukan itu", tapi tanyakan "kenapa melakukan ituKarena anak2 memiliki wilayah imajinasi yang berbeda dari alam logis manusia dewasa. Pahami itu. Kalau kita tidak bisa memahami mereka, berarti daya imajinasi kita sama dengan nihil


Mendidik anak2 yang sudah lama hidup di negara sekuler punya tantangan sendiri. Mereka terbiasa hidup bebas, tidak mendapatkan pemahaman akidah yang cukup, dan sikap yg lebih "liberal". Tugas kita adalah memperkenalkan mereka kepada اللّÙ‡ُ, keindahan ahlak rasul-Nya, dan pesan cinta Islam. Sebab disini mereka mendapatkan image yang tidak sesuai tentang Islam.

Di sisi lain, kita perlu mempertahankan sikap ramah, rendah hati, dan bekerja keras, ekspresi cinta kasih, penolong, disiplin, terbuka, kritis, credible, dan toleransi yg telah mereka dapatkan. Dengan tetap menyadari dan mengkaitkan bahwa sikap demikian tetaplah berasal dari ajaran Islam.

Ada segmen cerita lain,
Cerita takmir masjid dan kpmi belgia.
Takmir : "Mesjid bukan tempatnya ribut. Yang gabisa diem mendingan pulang" Kemudian anak2 pulang.
Saya, sejenak menapak tilasi kehidupan 15 tahun silam, berimajinasi. "Yah aku kan ke mesjid mau ketemu temen2, solat, sambil main, jajan, kok malah disuruh pulang".

Mau mencoba memahami alam pikir anak-anak? Mereka sebenarnya sedang belajar taat kepada Tuhannya, mencintai masjid, bersilaturahmi. Kok malah diusir ? Hmm... Terjawab kan, keheranan dan keresahan masyarakat muslim saat ini, kenapa generasi muslim saat ini lebih memilih mall daripada mesjid. Soalnya dulu pas masih kecil, ketika mereka antusias belajar mencintai mesjid-dengan perilaku hasil imajinasi dan keceriaan mereka- malah diusir. Trus apa yg mereka lakukan ? Main petasan. Mubazir. Ketika sudah dewasa, Window shopping di mall ? Mubazir.

Pemahaman baru.
"Mengusir mereka bukanlah solusi. Berikanlah wadah untuk mereka"
Terlahirlah ide karisma, pas salman, dan KPMI kids. Saya, beruntung sekali, bertemu dengan Pak Andy Asfandiyar, sang pencetus ide-ide tersebut. Interaksi yang dimulai dari sebungkus titipan bumbu pecel.

Lebih beruntung lagi, saya diajaknya dan dipercayanya insyaallah untuk turut membantu kegiatan KPMI kids. Bagi saya : surga !! Anak-anak, pendidikan, Islam. Perpaduan yang sulit saya tolak. Dan kegiatan itu sudah dimulai sejak malam ini. 15 menit pertama bersama Reyhan, Marsekal, Damar, Fadhil, Athif, Aisyah yg pemalu, dan Calista yang cerdas. Saya bahagia. Saya belajar dari mereka.Setidaknya, bagi saya pribadi, saya belajar mendidik anak-anak di negeri sekuler. Bekal berharga bagi saya. Saya yakin, Tuhan tidak pernah bermain dadu. Anyway, tema pengajian kali ini belajar tentang sikap sidiq, tabligh, amanah, dan fatonah Rasulullah. 


Kembali, saya teringat oleh percakapan ini.

"Apa cita2 lo?"
"Istri yang solehah, ibu yang cerdas, pendidik yang berdedikasi, pengusaha yang dermawan, dan penulis yang menginspirasi"
"Dari sekian banyak cita-cita lo, Bisa jadi ini jalan tercepat untuk meraih semuanya"

Disini saya belajar banyak. Belajar menjadi istri solehah, ibu yg cerdas, pendidik berdedikasi, pengusaha, dan penulis. Alhamdulillah.


Ctt 2.
Kado untuk Kynan dan Kikan.

Kynan dan Kikan adalah anak-anak dari Kang Ical, senior PPI Gent, yang baru saja berulang tahun bulan ini. Saya, Tazy, dan Cita berniat memberikan kado yang bisa untuk dimainkan bersama. Kami bingung. Asli.

"Cari kado untuk anak2 tuh susah susah gampang ya. Harus ada konten edukasinya. Pilihkan yang terbaik untuk anak2"

Begitulah pesan yg saya tanamkan buat saya ketika memilihkan kado ultah untuk mereka. Nanti kalau jadi ibu juga harus dipikirin banget ya..

Ctt3.
Istri yg qanaah. 

Ini adalah ucapan Fatimah Azzahra kepada Ali bin Abi Thalib setiap Ali akan berangkat mencari nafkah.

"Suamiku, ingatlah. Kami lebih tahan menahan lapar daripada menelan api neraka" - Mbak Elly, halaqah di Leuven siang ini.



Hari ini, saya mendapatkan banyak inspirasi. Alhamdulillah.

Regards,
@yosay_aulia

Monday, 12 November 2012

perempuan achiever

Saya tidak tahu apa yang ada di benak para lelaki ketika melihat seorang perempuan yang memiliki banyak cita-cita, memiliki rencana hidup yang terorganisasi dengan baik, memiliki banyak minat dan passion, memiliki determinasi yang jelas tentang cita-cita dan impiannya, serta berani membayar mahal impiannya.

Saya tidak pernah tahu, dan memutuskan untuk tidak perlu tahu.

Yang saya tahu, saya seperti itu. Dan saya punya alasan yang sangat kuat mengenai hal itu.

Pertama.
Saya ingin orang tua saya bahagia sebab saya menjadi wujud dari nilai-nilai yang mereka tanamkan. Well, saya tahu kasih sayang dan bakti seorang anak tidak akan pernah bisa membayar kasih sayang mereka. Tapi saya juga tahu, ridho-Nya terletak pada keridhoan orang tua. Dan, alhamdulillah mereka meridhoi saya atas apa yang saya lakukan saat ini. Saya hanya ingin mereka tidak merasa sia-sia dalam mendidik saya, sebab saya tahu kelahiran saya adalah salah satu episode tersulit dalam kehidupan orang tua saya. Saya hanya ingin membayarnya, meskipun tidak akan bisa setara.

Kedua.
Saya ingin menjadi contoh nyata bagi anak-anak saya kelak. Ketika kelak saya bercerita tentang nilai manfaat seorang manusia (baca : khususnya perempuan), apa yang telah saya perbuat, bagaimana saya melalui semua proses pertumbuhan yang tidak nyaman, dan kekonyolan apa saja yang pernah terjadi. Saya ingin menceritakannya secara hidup, saya ingin menjadi contoh nyata bagi anak-anak saya kelak. Supaya mereka tidak kehilangan identitas, supaya mereka tidak perlu mencari atau (kelak) menyalahkan teladan yang salah. Biarkan mereka belajar dari kesalahan saya (sebagai manusia) tapi saya akan pastikan itu hanya dari saya (dan suami saya kelak). Bukan sinetron, games kekerasan, frase sarkastik teman sepermainan, atau bacaan lampu merah.

Maka, bila saat ini saya terkesan determinatif terhadap keputusan mengenai apa yang akan saya ambil atau saya tinggalkan, itu semua demi anak-anak saya kelak. Bekal terkuat saya adalah keyakinan dan doa orangtua saya.

Saya selalu percaya bahwa impian saya akan terwujud dengan ijin-Nya, sejauh kepantasan diri saya bagi impian itu.

Saya yakin, ada banyak perempuan yang lebih hebat daripada saya, yang usianya jauh lebih muda daripada saya. Dan, bisa jadi mereka memiliki niat mulia selain untuk pencapaian pribadi. Saya juga yakin, niat mulia mereka (dalam berbagai bidang pencapaian) menjadi energi besar sekaligus jalan rahmat-Nya dalam membantu pencapaian mereka. Pencapaian besar bukan hanya egoisme pribadi, ia menjadi besar karena dapat memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya mahluk. Rahmatan lil alamin.

Kepada para lelaki, kalian tidak perlu merasa takut atau minder. Justru carilah perempuan yang seperti itu. Mereka berkarakter dan akan menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kalian kelak. Sebab hak pertama seorang anak terhadap ayahnya adalah ibu yang baik (Umar bin Khattab). Jadi, apa yang perlu dilakukan ? memantaskan diri. Memantaskan diri untuk dapat dianugerahi sebaik-baiknya teman hidup dunia akhirat. Sebab sebenarnya jodoh dibentuk melalui kepribadian masing-masing diri secara tidak langsung (Annur : 26).

Sebab menjadi perempuan itu harus gesit, karena ia mengurus banyak hal (mama) dan perempuan itu gak cuma lucu (tere liye).

#cttgent
Regards,

@yosay_aulia



Monday, 15 October 2012

Gent : Catatan Hati


Ini catatan yang langsng saya copy paste dari notes blackberry. original dari cuatan hati saya. hihi..
Di atas semuanya adalah اللّÙ‡ُ yg maha merencanakan :
1. If you are sincere, people will be sincere to you as well.
2. Sincere is about your heart, attitude. Ketulusan adalah bahasa kebaikan yg universal.
3. Menjadi muslim di negara non muslim adalah tantang menjadi rahmatan lil alamin. Kalau kamu baik di tengah lingkungan baik, itu wajar. Tp kalau kamu baik dan bermanfaat di lingkungan yg berbeda, itu luar biasa.
4. Di sini, ayat2 اللّÙ‡ُ terasa nyata dan terdengar lebih lantang.
5. Hati2 !!!
6.Luruskan niat, jaga hati
7. Go Travel and find out yourself !
8.Mandiri, peduli, berani, no prejudice
9. Yg menyenangkan disini adalah : transparansi,kejujuran, dan straight to the point. Hitam adalah hitam dan vice versa. Pujian bukanlah jilatan dan menyampaikan kritik tidak berarti kebencian. You don't need to be fake to get love, to get friendship, to be helped, to help, to be cared, to care. You only need to figure out yourself and be confidence, be true, be honest to yourself, appreciate, thanks. And then you will do either to everyone, and everyone will do the same.
10. Friendship is friendship. No boundary about race, nationality, what you have, how many your cars, what is your political view, or how rich you are. It is about sincerely asking your name, your feeling, your offering help, and others. Be sincere !
11. Menatap mata, menganggukkan kepala,senyum, mengucapkan terimakasih setiap ditanyakan kabar.

Gent : Pelajaran Hidup

For sure ! Saya di sini ambil dua master degree : Food Technology dan PPKN :)

Tiba-tiba saya seneng banget sama pelajaran PPKN yang dulu waktu SMP tuh malesin banget. Disini, semuanya terasa nyata dan aplikatif.

Daann.. saya suka paradoks ini :

Di tengah lingkungan yang minoritas muslim, ayat-Nya terasa lebih nyata. Inget ayat ini ?


Al-Hujurat:13

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

1. Kalau di Indonesia saya mengenal berbagai Suku Jawa, Sunda, Minang, Batak. Papua, Melayu,  Betawi, dan belasan ribu suku lainnya.. Di sini, saya mengenal Bangsa Aria, India, Afrika, Arab, Asia, Eropa, Amerika, Latin, dan Serbia.. Alhamdulillah Allah memberi saya kesempatan untuk mengenal keagungan ciptaan-Nya. Mengenal karakter mereka, bergaul, dan berteman baik.

2. Dan ternyata, ketakwaan (dalam terminologi pergaulan manusia) adalah manusia yang bermanfaat. Yang akhlaqnya paling baik, yang paling ramah, yang paling attentive, yang paling helpful, yang paling bisa memberi kebahagiaan dan pencerahan.. Itu semua dicontohkan Rasul dan dituntunakan dalam Quran.

Ada banyak cerita yang saya alami sendiri , yang menjadi bukti akan buah kebaikan. Tapi, benang merahnya satu : Jika engkau menjadi rahmat, maka rahmat akan mendatangimu.

Di sini, saya belajar menjadi rahmatan lil alamin. Menjadi pencerah bagi (paradigma) mereka (terutama tentang kaum muslim). Semoga Allah meridhoi.

"Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan"

Regards,

@yosay_aulia